MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP ANGKA PADA ANAK USIA 3-4 TAHUN MELALUI PERMAINAN MENYEROK IKAN

MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP ANGKA PADA ANAK USIA 3-4 TAHUN MELALUI PERMAINAN MENYEROK IKAN
(Penelitian Tindakan Kelas Di Kelompok Bermain TKK 3 PENABUR)

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Pendidikan Anak usia dini merupakan bekal dan dasar yang paling penting yang harus dimiliki oleh setiap anak. Pendidikan yang diberikan sejak usia dini dapat mempengaruhi perkembangan setiap anak. Pendidikan sejak dini juga merupakan pendidikan di masa usia emas atau disebut dengan istilah (the golden age) yang sangat potensial untuk melatih dan mengembangkan berbagai potensi dan kecerdasan yang dimiliki anak. Pengembangan anak usia dini juga mempunyai arah pada pengembangan segenap aspek pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak.
Undang – Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa Pendidikan anak usia dini merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Masa pendidikan ketika usia dini adalah masa yang tepat untuk mengembangkan dasar-dasar kemampuan kognitif, fisik, bahasa, sosial-emosional, seni, moral dan juga nilai-nilai agama. Sehingga untuk pengembangan seluruh potensi anak harus dimulai sejak anak usia dini agar pertumbuhan dan perkembangan anak dapat tercapai dengan optimal.

Kemampuan kognitif merupakan salah satu aspek kemampuan dasar anak yang sangat perlu untuk dikembangkan melalui pemberian stimulus sejak dini. Kemampuan kognitif menggambarkan bagaimana pikiran anak berkembang dan berfungsi sehingga dapat berpikir (Slamet Suyanto, 2005:53).

Menurut Piaget dalam buku William crain edisi ketiga (2002:182) perkembangan kognitif anak usia TK berada pada tahap pra- operasional. Pada tahap ini anak mulai menunjukkan proses berfikir yang jelas serta anak mulai mengenali beberapa simbol, tanda, bahasa dan gambar. Berdasarkan paparan tersebut anak usia 3-4 tahun hendaknya sudah mulai mengembangkan pemahaman konsep bilangan.

Bilangan atau angka adalah bagian dari kehidupan kita sehari – hari. Setiap hari kita selalu melihat dan menemukan angka atau bilangan dimana saja dan kapan saja. Bilangan atau yang disebut simbol bernomor menurut Ruslani (Tajudin, 2008: 23) adalah perangkat bantu yang mengandung pengertian Angka-angka ini mewakili jumlah bilangan yang terkandung dalam simbol angka. Angka ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, banyak anak tidak menyadari bahwa angka yang mereka lihat memiliki arti yang berbeda.
Pada dasarnya materi konsep angka atau bilangan di taman kanak-kanak kurang diminati oleh para siswa, sehingga menyebabkan pembelajaran kurang menyenangkan. Padahal konsep angka atau bilangan adalah salah satu materi yang sangat penting untuk pembentukan konsep dan kerangka berpikir anak dan bisa melengkapi pemikiran anak – anak dalam mempersiapkan diri memasuki tingkat sekolah dasar.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh observer melalui penelitian. maka ditemukan permasalahan pada anak usia 3- 4 tahun di sekolah TKK 3 PENABUR yaitu dalam hal mengenal konsep angka atau bilangan. Pemahaman anak terhadap konsep angka atau bilangan masih sebatas pada menyebutkan angka saja, namun anak belum mampu menunjukkan banyaknya benda sesuai lambang bilangan serta sebagian besar anak belum mampu untuk menunjukkan lambang bilangan sesuai dengan banyaknya benda yang ada ( anak belum memahami konsep angka dengan benar ). Selain itu, sistem pembelajaran masih berpusat pada guru (Teacher Learning Center ) sehingga kurangnya pengalaman yang di dapatkan anak ketika ia mempelajari suatu hal dan anak kurang aktif untuk mendapatkan pengalamannya sendiri. Selain itu juga proses pembelajaran cenderung berpusat pada lembar kerja anak (worksheet) sehingga suasana menjadi kurang aktif dan kurang menarik serta kurang menyenangkan bagi anak. Untuk meningkatkan dan mengoptimalkan pemahaman konsep bilangan pada anak usia 3 – 4 tahun dibutuhkan kegiatan yang lebih bervariasi sehingga dapat menarik minat anak untuk mau belajar dan dapat mengoptimalkan pengetahuan anak tentang konsep bilangan.
Permainan menyerok ikan dapat menjadi salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan anak dalam mengenal konsep angka atau bilangan. Melalui permainan, anak akan lebih tertarik dan bergerak aktif dalam mengikuti proses pembelajaran.

Montessori mengatakan bahwa dengan cara bermain anak memiliki kemampuan untuk memahami secara alami tanpa metode adanya paksaaan dengan mengerjakan lembar kerja semacam itu. Untuk dapat meningkatkan berbagai keterampilan belajar anak-anak TK dibutuhkan strategi pengembangan yang baik, yaitu strategi pengembangan menuju pembelajaran yang sesuai dengan dunianya, bermain. yaitu memberi kesempatan kepada anak untuk menjadi aktif dan kreatif. Dengan bermain, anak akan mendapatkan pengalaman dan pengetahuan. Mengingat dunia anak adalah dunia bermain, dengan anak bermain belajar, artinya anak yang belajar. dan anak yang bermain adalah anak yang belajar. Bermain dilakukan oleh anak-anak dalam berbagai bentuk sambil melakukan aktivitas, dengan bermain anak mendapatkan pelajaran yang mengandung semua aspek perkembangan.

Permainan menyerok ikan akan sangat mudah dilakukan oleh guru maupun orang tua dalam mengembangkan pemahaman konsep angka pada anak karena semua bahan yang digunakan dalam permainan ini mudah ditemukan di lingkungan sekitar kita. Selain itu, alat permainan yang digunakan dalam kegiatan juga mudah untuk dibuat sendri jika ingin dilakukan diluar lingkungan sekolah. Dengan demikian, permainan menyerok ikan diharapkan dapat membantu guru untuk mengoptimalkan pemahaman konsep angka pada anak usia 3 – 4 tahun di sekolah TKK 3 PENABUR.

1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang sudah dijelaskan diatas, maka dapat di identifikasi berbagai masalah yang ada pada pembelajaran kelompok bermain TKK 3 PENABUR yaitu :
Anak kurang tertarik untuk belajar kemampuan kognitif menggunakan metode lama (worksheeet).

Kemampuan anak masih terbatas hanya pada menyebutkan simbolnya atau angkanya saja, namun belum bisa menunjukkan jumlah angka beserta benda.

Sebagian besar anak belum bisa menunjukkan simbol angka sesuai dengan jumlah benda
Proses belajar masih berpusat pada guru, sehingga anak kurang aktif dalam menemukan pengalaman belajar mereka sendiri.

Belajar masih menekankan penggunaan Lembar Kerja Anak (worksheet) sebagai sumber belajar.

1.3 Batasan Masalah
Berdasarkan penjelasan dari latar belakang di atas, maka observer hanya akan memfokuskan pada peningkatan kemampuan anak yang masih sebatas menyebutkan simbol saja serta sebagian anak juga masih belum bisa menunjukkan jumlah lambang bilangan sesuai dengan jumlah banyaknya benda.

1.4 Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah yang sudah dipaparkan di atas, maka dapat dirumuskan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana meningkatkan pemahaman konsep angka melalui permainan menyerok ikan pada anak usia 3 – 4 tahun di TKK 3 PENABUR ?

1.5 Kegunaan Hasil Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan anak dalam mengenal konsep angka atau bilangan dan memberikan manfaat bagi pihak terkait, antara lain :
Bagi siswa
Anak mendapatkan rangsangan melalui aktivitas belajar yang tepat dan menyenangkan sehingga pemahaman konsep angka atau bilangan anak bisa meningkat terutama dalam meningkatkan kemampuan kognitif anak.

Bagi Guru
Guru mendapatkan metode pembelajaran yang tepat untuk digunakan dalam proses pembelajaran sehingga anak tertarik untuk belajar sehingga pemahaman konsep angka atau bilangan anak dapat meningkat, sekaligus memberikan metode pembelajaran baru bagi guru untuk menciptakan suasana belajar yang menarik dan menyenangkan.

Bagi Sekolah
Memberikan rekomendasi strategi yang baru dalam proses pembelajaran untuk menarik minat siwanya dalam belajar dan melakukan aktivitas

Bagi Peneliti
Menjadi referensi dalam melakukan penelitian tentang meningkatkan kemampuan anak dalam mengenal konsep bilangan di usia 3 – 4 tahun .

5. Bagi Orangtua
Menjadi alat bantu atau cara dalam membantu proses belajar anak di rumah melalui permainan ini.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Perkembangan Kognitif
Suatu konsep dalam memahami suatu pembelajaran adalah dasar untuk memahami pelajaran yang dipelajarinya. Konsep tersebut merupakan landasan Amerika terhadap proses pemikiran yang memiliki peranan penting sangat penting untuk pijakan selanjutnya. Kognitif adalah proses berpikir, kemampuan seseorang untuk menghubungkan, menilai, dan mempertimbangkan suatu peristiwa (Yuliani Nurani Sujiono, 2011: 1.3). Andang Ismail (2006: 145) menggambarkan kognitif yang diartikan sebagai pengetahuan, pengetahuan, kreativitas, kemampuan berbahasa dan ingatan. Selanjutnya, Santrock di Winda Gunarti (2010: 2.4) juga menjelaskan pemahaman kognitif, dimana kognitif didefinisikan sebagai kemampuan untuk memecahkan masalah dan kemampuan beradaptasi dan belajar dari pengalaman hidup sehari-hari.

Berdasarkan paparan di atas , dapat disimpulkan bahwa perkembangan kognitif adalah pengembangan berpikir kekuasaan , kreativitas dan memori dari seseorang , jadi yang kemudian dapat memecahkan masalah dalam hidup sehari-hari .Perkembangan kognitif dalam penelitian ini adalah pengembangan dari anak-anak di berpikir sesuatu yang terjadi pada lingkungan sekitar.

2 .2 Tahap Perkembangan Kognitif
Tahapan perkembangan kognitif anak tersebut dibagi menjadi empat tahap yang mencakup tahap sensori motor , preoperational , konkret dan operasional formal .Dalam studi ini , anak tahap pengembangan kognitif berada pada titik tahap preoperational .Tahap preoperational terjadi pada anak-anak dengan usia berkisar antara 2-7 tahun .Menurut piaget di slamet suyanto ( 2005: 55 ) pada tahap ini anak mulai menunjukkan proses berpikir yang lebih jelas , anak itu mulai mengetahui ada ( termasuk bahasa dan gambar dan anak itu juga menunjukkan kemampuan untuk melakukan permainan simbolis .Karakteristik dari tahap ini adalah kurangnya kemampuan anak dalam melakukan konservasi; berpusat berpikir , sehingga perhatiannya berpusat hanya pada satu dimensi

2.3 Anak Usia Dini
Pengertian Anak Usia Dini
Anak usia dini menurut naeyc ( nasional assosiation pendidikan untuk anak anak ) sekelompok orang orang yang berusia berkisar antara 0-8 tahun, pada usia itu manusia sedang dalam proses pertumbuhan dan perkembangan ( sofia hartati, 2005: 7 ).Tidak seperti konsep di negara maju, di indonesia pendidikan anak usia dini didefinisikan sebagai pendidikan untuk anak usia 0-6 tahun, tidak 0-8 tahun ( slamet suyanto, 2005: 33 ).Berdasarkan paparan di atas, ada pandangan yang berbeda tentang anak usia dini di negara maju dan di indonesia.Anak usia dini di negara maju sekelompok orang orang yang berusia jangkauan 0-8 tahun, selama di jakarta adalah sekelompok orang orang yang berusia berkisar antara 0-6 tahun.Awal anak dalam penelitian ini adalah anak yang di tk kelompok, yang adalah anak anak dengan usia jangkauan 4-5 tahun.

Karakteristik Anak Usia Dini
Anak usia dini memiliki sebuah dunia yang berbeda dan karakteristik yang berbeda dari orang dewasa, di mana anak-anak muda sangat aktif, dinamis, antusias, dan hampir selalu ingin tahu tentang apa yang mereka lihat dan mereka dengar, dan seolah-olah mereka tak pernah berhenti belajar ( sofia hartati, 2005: 8 ).Selain itu, anak usia dini juga memiliki karakteristik seperti yang dikemukakan oleh richard d.Kellough di sofia hartati ( 2005: 8-11 ), anak egosentris, anak memiliki rasa ingin tahu yang besar, anak tersebut adalah anak makhluk sosial, anak ini unik, anak-anak umumnya kaya dengan fantasi, anak-anak memiliki waktu konsentrasi yang relatif pendek, dan masa anak-anak yang menjadi andalan dan waktu yang sangat tepat dan berpotensial selama periode belajar untuk mengembangkan kecerdasan anak.
Karakteristik anak dalam penelitian ini adalah anak pada usia 3 – 4 tahun dimana anak tersebut adalah makhluk social yang masih memiliki sifat egosentris, kaya dengan dunia fantasi, sangat aktif, mempunyai rasa ingin tahu yang sangat tinggi, dan memiliki daya konsentrasi yang pendek.

2.4 Bermain
Montessori mengatakan bahwa dengan cara bermain anak memiliki kemampuan untuk memahami dan mengungkapkan secara alami tanpa adanya paksaan metode pemahaman tentang konsep angka ( sudono , 1995: ) 26 .Agar mampu meningkatkan berbagai pembelajaran keterampilan anak taman kanak kanak membutuhkan sebuah strategi pembangunan yang baik , yang demikian itu adalah strategi pembangunan ke arah belajar terhadap anak yang sesuai dengan dunianya , itu yang memberi kesempatan untuk anak – anak aktif dan kreatif. .Bermain diperlukan dan sebagai kegiatan yang penting dilakukan oleh anak anak , anak .Dengan bermain , anak akan mendapatkan pengalaman dan ilmu yang bermanfaat .Yang dibutuhkan oleh anak – anak adalah dunia bermain , dengan bermain maka anak belajar , yang berarti bahwa anak – anak yang belajar adalah anak anak yang bermain , dan anak anak yang bermain adalah anak yang belajar . Bermain hanya dilakukan oleh anak anak dalam berbagai bentuk ketika melakukan kegiatan , dengan bermain anak anak mendapatkan pelajaran yang berisi semua aspek pembangunan .

a.Permainan Edukatif
Permainan edukatif adalah hal yang kegiatan yang sangat menyenangkan dan bisa jadi cara atau strategi alat pendidikan ( andang ismail , 2006: 119 ). Permainan edukatif juga dapat digunakan untuk mengembangkan berbagai aspek kecerdasan anak usia sekolah , seperti kognitif , bahasa , sosial emosional , motor dan fisik agama dan nilai nilai moral . Andang ismail ( 2006: 120 ) juga menjelaskan bahwa permainan edukatif dapat berarti suatu bentuk kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan kesenangan atau kepuasan dari sarana atau alat bantu yang digunakan dalam pendidikan kegiatan bermain .Dalam studi ini adalah permainan edukasi yang menyenangkan kegiatan yang dapat mengembangkan kemampuan kognitif anak , khususnya berkaitan dengan memahami konsep dari jumlah tersebut bagi anak usia 3- 4 tahun
b.Tujuan Permainan Edukatif
Menurut Andang Ismail (2006:121) tujuan permainan lebih ditekankan pada pencapaian kesenangan dan kepuasan batin. Selain itu, permainan juga harus dapat diarahkan untuk dapat menghasilkan perubahan sikap. Secara umum, terdapat beberapa tujuan dari permainan edukatif, antara lain:
1) Mengembangkan konsep diri (self concept)
Menurut Andang Ismail (2006:121) memahami konsep diri dapat menjadi fondasi yang paling utama bagi anak, hal tersebut karena dengan memahami konsep diri anak akan merasakan perbedaan dirinya dengan orang lain serta mengetahui kelebihan dan kekurangan dirinya dibanding yang lain.

2) Mengembangkan kreativitas
Menurut Andang Ismail (2006:130) kreativitas merupakan sebuah proses yang menyebabkan lahirnya kreasi baru dan orisinil yang dapat dikembangkan melalui proses mental yang unik dan bisa jadi dihasilkan dari kegiatan otak yang divergen, komprehensif dan imajinatif.

3) Mengembangkan komunikasi
Andang Ismail (2006:139) menjelaskan tentang komunikasi yang merupakan interaksi antara dua anak atau lebih dalam rangka menyampaikan pesan atau informasi kepada yang dituju. Anak dapat mengembangkan komunikasi dengan saling bercerita, berkomunikasi, mengajak bermain bersama teman sebaya, serta saling bertukar mainan. Orangtua atau guru sebaiknya memberikan kebebasan kepada anak dalam mengekspresikan kemampuan komunikasi yang sedang dikembangkan anak.

4) Mengembangkan aspek fisik dan motorik
Melalui permainan yang juga dapat mengembangkan aspek fisik dan juga motorik, anak dapat juga menyalurkan tenaga yang berlebihan sehingga anak tidak menjadi merasa gelisah, tidak merasakan cepat bosan, sehingga jika anak diminta lagi untuk duduk diam berjam-jam anak akan tidak merasa bosan, nyaman, dan tidak merasa tertekan (Andang Ismail, 2006:140).

5) Mengembangkan aspek sosial
Melalui permainan dengan teman sebaya, anak akan belajar berbagi apa yang dia miliki, menggunakan mainan secara bergantian dengan orang lain, melakukan kegiatan bersama- sama dengan orang lain, mempertahankan hubungan yang ada, dan berusaha mencari cara maupun solusi yang dihadapi dengan teman mainnya (Andang Ismail, 2006:142).

6) Mengembangkan aspek emosi dan juga kepribadian
Menurut Andang Ismail (2006:144) melalui bermain anak juga dapat membebaskan rasas ketegangan yang dialami akibat banyaknya larangan atas apa yang ia dapat dalam kehidupan sehari-hari, serta bermain juga dapat dipercaya untuk dapat memenuhi kebutuhan dan dorongan dalam diri anak yang tidak mungkin bisa terpuaskan dalam kehidupan nyata yang di alami oleh anak.

7) Mengembangkan aspek kognitif
Andang Ismail (2006:145) menjelaskan bahwa anak dalam usia prasekolah (anak usia dini ) diharapkan mampu agar mengusai berbagai konsep, seperti konsep tentang angka atau bilangan, warna, ukuran, bentuk, arah dan besaran yang diharapkan dapat menjadi landasan bagi anak untuk anak belajar menulis, bahasa, matematika dan ilmu pengetahuan lainnya. Pengetahuan tentang konsep tersebut akan lebih mudah jika diperoleh melalui permainan. Hal tersebut dikarenakan melalui permainan, anak akan merasa bahagia dan tanpa disadari anak sudah banyak belajar.

8) Mengasah ketajaman pengindraan
Indera yang dimaksud dalam hal ini mencakup tentang pendengaran, penciuman, pengecapan, dan perabaan. Keempat aspek tersebut perlu diasah sejak dini agar anak menjadi lebih tanggap dan peka terhadap hal-hal yang terjadi di lingkungan sekitarnya (Andang Ismail, 2006:147). Melalui alat permainan yang edukatif, anak akan mengamati berbagai alat yang dimainkan oehnya. Dengan begitu, ketajaman pengindraan anak akan terasah dengan sendirinya. Dengan tajamnya alat indera anak, maka anak akan dengan mudah untuk memasuki tahap sekolah lanjutan.

9) Mengembangkan ketrampilan olah raga dan keterampilan menari
Menurut Andang Ismail (2006:149), melakukan olah raga dan menari diperlukan juga gerakan-gerakan tubuh yang cekatan, lentur, serta tidak canggung dan tidak kaku agar kegiatan yang dilakukan dapat berjalan secara optimal.

Tujuan permainan edukatif dalam penelitian ini lebih difokuskan untuk mengembangkan aspek kognitif anak, khususnya yang berkaitan dengan pemahaman konsep angka atau bilangan. Melalui permainan edukatif, anak akan merasa senang dan tanpa disadari anak sudah banyak belajar dengan sendirinya.

2. 5 Permainan Menyerok Ikan
Permainan menyerok ikan adalah permainan yang menghubungkan antara anak dan angka atau bilangan dalam kehidupan sehari-hari. Permainan menyerok ikan merupakan permainan sederhana namun menarik bagi anak. Permainan menyerok ikan merupakan permainan yang bertujuan untuk memasangkan jumlah ikan dengan lambang bilangan.
Di dalam permainan menyerok ikan ini memiliki kelebihan yaitu diantaranya adalah anak akan dilatih untuk mengenal angka sesuai dengan lambangnya dengan cara yang menyenangkan, anak dilatih juga untuk berkonsentrasi penuh agar ikan dapat sampai ke ember dan tidak jatuh saat berlari dan berusaha memasukkan ke dalam ember yang sudah bertuliskan konsep bilangannya, anak diarahkan untuk mengenal warna yang ada pada ikan, serta anak dilatih untuk selalu sabar dalam melaksanakan permainan. Permainan dan kemampuan anak dalam mengenal konsep angka juga akan semakin menarik dengan permainan menyerok ikan.
Menurut asadjie (2013) dijelaskan tentang kelebihan dari permainan menyerok ikan, dintaranya adalah anak terlatih untuk mengenal nomor dengan cara yang menyenangkan, anak yang dilatih untuk berkonsentrasi penuh sehingga ikan dan angka dapat masuk ke dalam ember sesuai dengan angka atau lambang bilangan yang berada , selain itu anak – anak juga diarahkan untuk mengenal warna ikan dan angka-angka itu, dan anak-anak Anda dilatih untuk kesabaran dalam menjalankan permainan .Rosi meri irawati (2012: 44) juga membahas tentang seberapa jauh permainan menyerok ikan ini mampu di lakukan, yaitu permainan menyerok ikan dapat digunakan sebagai upaya untuk meningkatkan motivasi rasa ingin tahu anak-anak dalam cara menghitung, sehingga belajar bagaimana cara menghitung menjadi lebih menyenangkan.
left635

Menurut yuliani sujiono (2009: 11,35) bermain menyerok ikan dapat dilakukan dengan langkah a) menempatkan ikan dari dalam ember; b) meminta seorang anak untuk mencoba menangkap ikan dengan iming-iming yang telah dibuat; c) minta anak-anak menyebutkan yang tertulis dalam yang telah diambil; d) minta anak-anak untuk meletakkan ikan di dalam ember yang jumlahnya sama dengan angka yang tertera di ember; e) meminta anak-anak untuk memilih teman berikutnya.Tetapi tujuan yang harus dicapai dari permainan menyerok ikan dalam penelitian ini adalah untuk memperkenalkan dan mengembangkan generasi anak-anak yang mampu dalam menguasai konsep angka atau bilangan.Langkah- langkah pembelajaran yang harus dilakukan untuk permainan menyerok ikan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a.Pertama, peneliti menyiapkan alat bahan yang akan digunakan dalam permainan. Alat dan bahan tersebut antara lain adalah, kertas yang sudah dibuat angka di dalamnya yang berisi gambar dan dilaminating serta lem atau isolatip untuk menempelkan kertas yang sudah dilaminating di luar ember, beberapa ember yang digunakan untuk meletakkan urutan angka. Dan satu buah ember di posisi lain untuk meletakkan ikan ikan yang akan di serok sesuai angka yang ada,
b.Anak – anak diminta untuk berbaris ke belakang
c.Anak pertama yang berdiri di barisan depan dari diminta untuk menyerok ikan sesuai dengan perintah guru.

d.Anak yang sudah menyerok ikan akan diminta untuk berlari sambil membawa ikan menuju ember yang sudah ditempel dengan angka di depannya
e.anak akan memasukkan ikan yang sudah di serok sesuai dengan ember yang ada berdasarkan jumlah ikan yang sudah di serok.

f.Anak yang sudah meletakkan ikan ke dalam ember akan menyebutkan jumlah bilangan yang dia lihat berdasarkan dengan jumlah ikan yang dia bawa
g.setelah selesai, minta anak untuk melakukan permainan tersebut secara bergantian.

2.6 Penelitian Terdahulu yang relevan.

Sebelum observer melakukan penelitian, observer menelusuri beberapa hasil penelitian yang memiliki keterkaitan yang relevan dengan penelitian peningkatan pemahaman konsep angka pada anak usia dini. Penelitian tersebut diantaranya yaitu:
1. Penelitian dengan judul “Meningkatkan Pemahaman Konsep Bilangan Anak Usia Dini Melalui Kegiatan Bermain Dengan Media Kartu Angka Di TK Pertiwi Rejosari” dilakukan oleh Kustini Mahasiswa PG – PAUD IKIP Veteran Semarang. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa melalui permainan kartu angka berhasil sehingga dapat meningkatkan pemahaman konsep bilangan anak. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya peningkatan nilai anak sebelum dan sesudah dilakukan tindakan.

2. Penelitian dengan judul ” Peningkatan Pemahaman Konsep Bilangan Melalui Permainan Berburu Bola Pada Siswa Kelompok B TK DHARMAWANITA 2 SUMBERINGIN Kecamatan Karangan Kabupaten Trenggalek Semester I tahun 2012/2013″ dilakukan oleh Juriyah, TK Dharmawanita 2 Sumberingin, Karangan, Trenggalek. Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Juriyah dapat disimpulkan bahwa melalui aktivitas bermain berburu bola dapat meningkatkan pemahaman konsep bilangan pada anak. Peningkatan
tersebut ditunjukkan dengan adanya hasil peningkatan pemahaman konsep bilangan pada saat sebelum dan sesudah pelaksanaan tindakan tersebut. Penelitian-penelitian yang sudah berhasil tersebut yang mendorong peneliti untuk melakukan penelitian pada anak usia 3 – 4 tahun di TKK 3 PENABUR dengan jumlah subyek sebanyak 18 anak melalui metode Penelitian Tindakan Kelas.

2.7 Kerangka Berpikir
Pada awal usia anak, kemampuan anak usia dini akan berkembang secara maksimal, sehingga diperlukan stimulus yang tepat dan benar untuk mengembangkan setiap aspek perkembangan dam kemampuan anak. Salah satu aspek yang sangat perlu dikembangkan adalah aspek kemampuan kognitif, yaitu kemampuan untuk berpikir, menalar, memahami, mengembangkan daya imajinasi serta kreativitas dan juga daya ingat seseorang, sehinggga dia mampu menemukan solusi dari permasalahannya dalam kehidupan sehari – hari.
Pemahaman konsep angka atau bilangan termasuk dalam aspek perkembangan kognitif pada anak usia dini yang perlu dikembangkan. Namun, pemahaman konsep angka atau bilangan pada anak di TKK 3 PENABUR masih belum optimal. Pemahaman anak usia dini tentang konsep angka atau bilangan masih hanya sebatas pada menyebutkan angka satu, dua, tiga dan seterusnya tetapi masih belum mengerti maksud dari angka atau bilangan yang diucapkan tersebut, selain itu pemahaman anak usia dini terhadap lambang bilangan juga masih sangat terbatas atau minim. Hal tersebut disebabkan karena kurangnya variasi atau teknik guru dalam memberikan pembelajaran tentang membilang atau menyebutkan angka. Sehingga, dibutuhkan cara yang tepat dan benar untuk mengembangkan pemahaman konsep bilangan pada anak usia dini.

Permainan menyerok ikan dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk meningkatkan pemahaman konsep angka atau bilangan pada anak usia 3-4 tahun. Melalui permainan menyerok ikan anak dapat meningkatkan pemahaman konsep angka atau bilangan melalui cara yang berbeda dan menyenangkan dan tidak terpaku pada lembar kerja yang cenderung membosankan. Dengan begitu diharapkan anak dapat lebih tertarik dan lebih mudah dalam meningkatkan pemahaman konsep angka atau bilangan.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka kerangka berpikir atau alur penelitian dari tindakan kelas ini dapat divisualisasikan dalam sebuah skema seperti di bawah ini:
Gambar 2.1 Kerangka Berpikir permainan menyerok ikan

139065-107315Keadaan aawal sebelum penelitian
Keadaan aawal sebelum penelitian
1937385-106680Selama tindakan Penelitian
Selama tindakan Penelitian
3774440-86995Hasil Akhir setelah tindakan penelitian
Hasil Akhir setelah tindakan penelitian

1538605-565153289300-635002125980-11868153923665-11849105828665-1173480

119380-57150Pemahaman Konsep angka atau bilangan pada anak usia 3 – 4 tahun Kelompok Bermain TKK 3 PENABUR belum berkembang secara optimal atau maksimal
Pemahaman Konsep angka atau bilangan pada anak usia 3 – 4 tahun Kelompok Bermain TKK 3 PENABUR belum berkembang secara optimal atau maksimal
139065-19051936750-55880Permainan menyerok ikan
Permainan menyerok ikan
139065-19053783965-37465Anak mengalami peningkatan pemahaman Konsep angka atau bilangan setelah adanya tindakan melalui permainan menyerok ikan
Anak mengalami peningkatan pemahaman Konsep angka atau bilangan setelah adanya tindakan melalui permainan menyerok ikan
139065-1905

2. 8 Hipotesis Tindakan
Berdasarkan paparan dari kajian teori dan kerangka berpikir yang telah disampaikan di atas, maka dapat diajukan bahwa rumusan hipotesis penelitian ini adalah “Pemahaman konsep angka pada anak usia 3 – 4 tahun di TKK 3 PENABUR dapat ditingkatkan melalui permainan menyerok ikan”.

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah penelitian tindakan kelas (PTK), dengan alasan karena kelas adalah unit terkecil dalam suatu sistem pembelajaran. Menurut Wina Sanjaya (2011:26) PTK adalah suatu proses pengkajian masalah pembelajaran yang ada di dalam kelas yang dilakukan melalui refleksi diri dalam upaya untuk memecahkan masalah dengan cara melakukan berbagai tindakan yang sudah terencana dalam situasi nyata serta menganalisis seluruh pengaruh dari pemberian tindakan. Dalam penelitian ini, tindakan dilakukan dalam upaya untuk meningkatkan pemahaman konsep bilangan anak melalui permainan menyerok ikan.

Bentuk penelitian tindakan ini yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kolaboratif. Penelitian tindakan kolaboratif merupakan suatu bentuk penelitian yang dilaksanakan oleh suatu tim yang biasanya terdiri dari guru dan kepala sekolah yang terlibat dalam penelitian (Wina Sanjaya, 2011:59). Dalam penelitian ini, kolaborasi tindakan dilakukan antara peneliti yang bertindak sebagai observer dengan guru yang bertindak sebagai pelaksana tindakan secara langsung.

3.2 Model Penelitian
Model penelitian yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas (PTK) ini adalah model penelitian Kemmis & McTaggart.

20339052326640Gambar 3.1
Gambar 3.1
2382520144780

Siklus penelitian tindakan kelas menurut Kemmis & Taggart ( dalam Wijaya Kusumah & Dedi Dwitagama, 2011:21)
Pada dasarnya, siklus atau model yang dikemukakan oleh Kemmis & McTaggart merupakan kumpulan dari perangkat-perangkat dengan satu perangkat yang terdiri dari perencanaan, tindakan dan observasi serta refleksi, dimana perangkat – perangkat tersebut dipandang sebagai satu siklus yang berkesinambungan (Wijaya Kusumah & Dedi Dwitagama, 2011:21).

3.3 Tahap rancangan pelaksanaan Tindakan
Tahap I (pertama ) : Tahap perencanaan
Pada tahap yang pertama yaitu tahap perencanaan, rencana yang disusun hendaknya dapat dijadikan sebagai pedoman seutuhnya dalam proses pembelajaran (Wina Sanjaya, 2011:79). Tindakan yang disusun dalam tahap awal perencanaan meliputi di bawah ini:
1. Survei langsung terhadap kondisi sekolah, kondisi siswa, kondisi fasilitas serta metode pembelajaran yang digunakan di sekolah.

2. Membuat rumusan tujuan pembelajaran yang akan dilakukan, yaitu meningkatkan pemahaman konsep bilangan anak melalui permainan menyerok ikan.

3. Membuat rencana kegiatan harian pembelajaran yang akan digunakan dalam penelitian.

4. Menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan dalam melaksanakan tindakan penelitian.

5. Membuat instrumen- instrumen penelitian.

6. Membuat dan menyiapkan lembar observasi.

7. Membuat dan menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan selama penelitian.

Tahap II (kedua): Tahap Pelaksanaan dan Observasi
Dalam tahap Pelaksanaan tindakan merupakan perlakuan yang dilakukan oleh guru berdasarkan perencanaan yang sudah disusun (Wina Sanjaya, 2011:79). Sedangkan tahap observasi dilakukan untuk mengumpulkan informasi- informasi tentang proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru sesuai dengan tindakan yang sudah disusun (Wina Sanjaya, 2011:79).

Dalam tahap ini guru bertindak sebagai pelaksana tindakan dan peneliti dan bertindak sebagai pengamat tindakan. Pada penelitian ini, peneliti melakukan pengamatan langsung terhadap jalannya pelaksanaan tindakan yang dilakukan oleh guru. Peneliti mengisi lembar check list yang telah dibuat dan disipkan berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan serta mendokumentasikan setiap kegiatan yang dianggap penting untuk kebutuhan penelitian.

Tahap III (Ketiga ) : Tahap Refleksi
Tahap Refleksi adalah kegiatan melihat berbagai kekurangan yang masih dirasakan dan dialami selama melakukan tindakan (Wina Sanjaya, 2011:79). Dalam penelitian ini, berbagai kekurangan yang dirasakan dan dialami dalam pelaksanaan tindakan akan didiskusikan antara peneliti dengan guru kelas untuk selanjutnya dicarikan solusinya. Tahap refleksi digunakan oleh peneliti dengan guru kelas dalam menentukan tindakan apa yang akan dilakukan pada siklus selanjutnya. Hal ini bertujuan agar terjadinya peningkatan dalam pemahaman konsep bilangan anak melalui tindakan yang telah diberikan selama penelitian ini berlangsung.

3.4 Subjek dan Objek Penelitian
Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh anak yang berada pada Kelompok Bermain TKK 3 PENABUR tahun ajaran 2017/2018 yang berjumlah 18 anak, yang terdiri dari 9 anak laki-laki dan 9 anak perempuan. Sedangkan objek yang diambil dalam penelitian ini adalah peningkatan pemahaman konsep angka atau bilangan melalui permainan menyerok ikan pada anak Kelompok Bermain usia 3- 4 tahun.

3. 5 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas ini akan dilaksanakan pada Kelompok Bermain usia 3 – 4 tahun TKK 3 PENABUR pada bulan Februari tahun ajaran 2017/2018.

3. 6 Metode dalam Pengumpulan Data
Metode dalam pengumpulan data adalah cara yang digunakan untuk mendapatkan data (Suharsimi Arikunto, 2006:49). Dalam penelitian tindakan kelas ini, metode dalam pengumpulan data yang digunakan adalah metode observasi.

Observasi yaitu merupakan teknik dalam pengumpulan data dengan cara mengamati setiap kejadian apapun yang sedang berlangsung dan kemudian mencatatnya dengan alat observasi tentang hal-hal apapun yang akan diamati atau diteliti oleh peneliti (Wina Sanjaya, 2011:86). Observasi juga dilakukan untuk mendapatkan informasi terkait apa yang dilakukan oleh anak sebagai reaksi dari pemberian stimulus yang diberikan oleh guru. Dalam melakukan tindakan observasi, dibutuhkan kisi-kisi sebagai pedoman pelaksanaan dalam penelitian.

Kisi – kisi observasi yang digunakan sebagai pedoman pelaksanaan penelitian ini menggunakan variabel pemahaman atas konsep bilangan. Sementara sub variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah menghitung angka atau bilangan, mengenal angka (lambang bilangan) serta membandingkan.

Tabel 3.1. kisi – kisi Penelitian Tindakan Kelas
Variabel yang digunakan Sub variabel yang digunakan Indikator keberhasilan Keterangan dari kegiatan yang dilakukan
Pemahaman konsep angka atau bilangan Menghitung angka atau bilangan Dapat menyebutkan atau membilang banyak benda dari satu sampai lima Dapat menyebutkan atau membilang benda yang diserok
Mengenal angka (lambang bilangan) Menunjuk angka atau lambang bilangan dengan benar Dapat menyerok ikan sesuai perintah
Membandingkan Dapat membandingkan jumlah benda Dapat membandingkan jumlah ikan yang sudah di serok dengan lambang bilangan yang ada di ember

3. 7 Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen dalam pengumpulan data diperlukan agar penelitian tindakan keals yang dilakukan dapat berhasil. Dalam penelitian tindakan kelas ini, instrumen pengumpulan data yang digunakan yaitu check list. Check list adalah daftar dari variabel yang akan dikumpulkan datanya, lalu peneliti hanya memberikan tanda centang (?) dalam setiap kemunculan gejala (Suharsimi Arikunto, 2006:159).

3. 8 Teknik Ananlisis Data
Teknik Analisis data dalam penelitian tindakan kelas ini diarahkan untuk mencari dan mendapatkan upaya yang dilakukan oleh guru dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar anak (Wina Sanjaya, 2011:106).

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah teknik analisis deskriptif kuantitatif. Analisis data kuantitatif yang digunakan untuk menentukan seberapa besar peningkatan kemampuan anak dalam membilang atau menyebutkan konsep angka atau bilangan setelah adanya tindakan penelitian. Analisis yang dilakukan berasal dari data observasi aktivitas yang dilakukan anak dalam permainan menyerok ikan untuk meningkatkan pemahaman konsep angka atau bilangan.

Dari hasil penelitian yang sudah dilakukan selanjutnya dapat dihitung dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Ngalim Purwanto (2008 : 120) bahwa:
NP=RSRx100%
Dimana : NP = Nilai Persen yang akan dicari
R = Skor awal
SM = Skor maksimum ideal dari nilai yang ada
100% = Konstanta
Menurut Acep Yoni (2010:176) hasil dari data tersebut dapat diinterpretasikan ke dalam empat tingkatan, seperti di bawah ini :
Kriteria adalah sangat baik jika anak memperoleh nilai 76%-100%

Kriteria adalah baik jika anak memperoleh nilai 51%-75%

Kriteria adalah cukup jika anak memperoleh nilai 26%-50%

Kriteria adalah kurang jika anak memperoleh nilai 0%-25%

3.9 Indikator Keberhasilan
Berdasarkan dengan karakteristik penelitian tindakan kelas, dalam penelitian ini dinyatakan berhasil apabila terdapat perubahan atau peningkatan terhadap hasil belajar yang diperoleh oleh anak setelah diberikan tindakan dalam hal ini melalui permainan menyerok ikan. Penelitian ini dikatakan berhasil apabila pemahaman anak terhadap konsep angka atau bilangan menunjukkan kriteria sangat baik dengan rentang nilai mencapai 76%-100%.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Kondisi Awal Penelitian sebelum tindakan
Proses pembelajaran yang dilaksanakan di TKK 3 PENABUR khususnya yang berkaitan dengan pemahaman konsep angka atau bilangan masih berpusat pada guru dan masih menekankan pada penggunaan lembar kerja sebagai bahan belajar. Pembelajaran yang berpusat pada guru ( teacher centre) mengakibatkan anak menjadi kurang aktif dalam menemukan pengalaman belajarnya sendiri. Selain itu, penggunaan lembar kerja sebagai sumber belajar juga kurang menarik minat anak. Dengan demikian, diperlukan upaya perbaikan agar pemahaman anak terhadap konsep bilangan dapat berkembang dengan optimal dan maksimal.

Langkah awal yang harus dilakukan oleh peneliti sebelum melaksanakan penelitian tindakan kelas, yaitu pengamatan awal pra tindakan untuk dapat mengetahui keadaan awal pemahaman konsep bilangan pada anak. Pengamatan ini dilakukan dengan melakukan observasi pada saat kegiatan pembelajaran serta dokumentasi hasil belajar siswa.

Hasil observasi yang didapat dari pengamatan pra tindakan adalah:

Tabel 4.1 Hasil data siswa sebelum dilakukan tindakan
No. Pemahaman konsep angka atau bilangan Persentase

1. Menghitung angka atau bilangan 53,75%

2. Mengenal lambang bilangan (angka) 48,75%

3. Membandingkan hasil sesuai dengan lambing bilangan 46,25%

Persentase Rata-rata 49,58%

Dari data hasil observasi pra tindakan (sebelum tindakan) pemahaman anak terhadap konsep bilangan menunjukkan bahwa pemahaman konsep angka atau bilangan anak mulai berkembang. Data tersebut dapat ditunjukkan dan dijelaskan dengan hasil pemahaman konsep bilangan anak berada pada kriteria cukup.

Data di atas menunjukkan bahwa masih terdapat sebagian besar anak yang masih memiliki pemahaman atas konsep bilangan yang masih belum optimal. Oleh karena itu, keadaan tersebut menjadi suatu landasan dari peneliti untuk melakukan sebuah tindakan yang dapat meningkatkan pemahaman konsep angka atau bilangan anak melalui permainan menyerok ikan. Dengan menggunakan metode pembelajaran yang kreatif, berbeda dan menyenangkan juga sesuai dengan minat anak yaitu dengan permainan menyerok ikan diharapkan dapat meningkatkan pemahaman anak terhadap konsep bilangan.

4.2 Hasil Pengamatan Siklus 1
Pada tahap siklus I ini peneliti bekerjasama dengan guru kelas. Tugas peneliti adalah mengamati, menilai dan mendokumentasikan setiap kegiatan yang dilaksanakan serta tugas guru kelas adalah melaksanakan tindakan penelitian. Pelaksanaan tindakan disesuaikan dengan (Rancangan Kegiatan Harian) RKH yang telah dibuat oleh peneliti dan guru kelas.
Dibawah ini adalah deskripsi pelaksanaan tindakan siklus I:

Guru memberikan penjelasan di dalam kelas tentang kegiatan yang akan dilakukan kepada anak.

Guru membagi anak- anak ke dalam kelompok.

Setiap anak dalam kelompok tersebut diberi tugas untuk menyerok ikan. Anak pertama dalam satu kelompok diminta untuk menyerok ikan sesuai dengan perintah guru. Kemudian anak selanjutnya dalam kelompok tersebut diminta untuk menunggu giliran.

Dalam pelaksanaan penelitian berikut ini peneliti melaksanakan observasi bersama dengan guru kelas selama tindakan penelitian berlangsung. Dari hasil pengamatan yang sudah dilakukan oleh peneliti dengan guru kelas terhadap pelaksanaan tindakan pada siklus I, diperoleh hasil sebagai berikut ini:
1) Proses belajar

Berdasarkan hasil observasi pada tahap siklus I, peneliti mengamati bahwa peningkatan kemampuan membilang anak dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut ini:
a)Anak mendengarkan penjelasan guru
Dalam pertemuan pertama anak mulai terlihat antusias saat guru menjelaskan bahwa anak-anak akan diajak untuk melakukan permainan menyerok ikan. Pertemuan selanjutnya, anak juga terlihat masih antusias untuk mendengarkan penjelasan guru tentang berapa ikan yang akan di serok sesuai dengan perintah dari guru.

b)Ketertarikan anak dalam mengikuti pembelajaran menggunakan permainan menyerok ikan.

Pada saat pelaksanaan permainan, anak sangat tertarik untuk melakukan permainan menyerok ikan. Bahkan terdapat beberapa anak yang tidak sabar dan berebut agar dapat melakukan permainan terlebih dahulu. Pada saat temannya mulai menyerok ikan, anak-anak juga ikut menyemangati dan berteriak memanggil nama temannya.

Berikut ini adalah hasil dari pengamatan terhadap pelaksanaan tindakan peningkatan kemampuan membilang dapat dilihat pada siklus I di bawah ini:
Tabel 4.2 . Rekapitulasi Data Siklus I
No. Pemahaman konsep angka atau bilangan Persentase

1. Menghitung angka atau bilangan 76,25%

2. Mengenal lambang bilangan (angka) 73,75%

3. Membandingkan hasil sesuai dengan lambang bilangan 66,25%

Persentase Rata-rata 72,08%

Berdasarkan tabel yang di atas dapat dilihat hasil dari pelaksanaan siklus I bahwa peningkatan pemahaman konsep angka atau bilangan telah mencapai persentase yaitu 72,08% dengan kriteria baik. Sebagian besar anak mengalami peningkatan dalam setiap indikator pemahaman konsep angka atau bilangan.

4.3 Refleksi siklus I
Dalam Pelaksanaan refleksi siklus I dilakukan oleh peneliti bersama dengan guru kelas. Peningkatan pemahaman konsep angka atau bilangan anak pada siklus I dapat diketahui dengan cara membandingkan data kemampuan yang diperoleh sebelum tindakan permainan dan sesudah pelaksanaan siklus I, peneliti membandingkan peningkatan persentasenya.

Tabel 4.3 Perbandingan hasil pra penelitian dan siklus I
No. Siklus Persentase

1. Pra Siklus 49,58%

2. Siklus I 72,08%

Peningkatan Persentase 22,50%

Berdasarkan tabel dari rekapitulasi diatas dapat dilihat peningkatan kemampuan membilang anak melalui permainan menyerok ikan pada saat pra tindakan dan setelah tindakan siklus I.

Meskipun sudah terjadi peningkatan, namun peningkatan yang terjadi belum signifikan dan belum mampu mencapai indikator keberhasilan yang sudah ditetapkan oleh peneliti. Dengan demikian, peneliti dan guru kelas bekerjasama untuk mengidentifikasi beberapa kendala saat pelaksanaan tindakan siklus I, yaitu:
Kurang banyaknya waktu dalam pelaksanaan tindakan melalui kegiatan permainan menyerok ikan.

Anak masih kurang konsentrasi dalam melaksanakan permainan menyerok ikan. Masih banyak anak yang menyerok ikan tidak sesuai dengan perintah guru.

Alat dan bahan yang disediakan dan digunakan dalam penelitian kurang, sehingga anak- anak masih sering berebut untuk melakukan kegiatan permainan menyerok ikan.

4.4 Hasil Pengamatan Siklus II
Setelah melakukan siklus I dan melakukan refleksi pada tahap siklus I, maka pada tahap ini peneliti bekerjasama dengan guru kelas. Tugas peneliti adalah mengamati, menilai dan mendokumentasikan setiap kegiatan yang dilaksanakan serta tugas guru kelas adalah melaksanakan tindakan penelitian. Pelaksanaan tindakan disesuaikan dengan Rencana Kegiatan Harian (RKH) yang telah dibuat oleh peneliti bersama dengan guru kelas.

Berikut dibawah ini deskripsi pelaksanaan tindakan siklus II:
1) Guru menjelaskan di dalam kelas tentang kegiatan dan permainan yang akan dilakukan kepada anak.

2) Setiap anak dalam kelompok diberi tugas untuk menyerok ikan. Anak pertama dalam satu kelompok diminta untuk menyerok ikan sesuai dengan perintah guru. Kemudian anak lainnya dalam kelompok tersebut diminta untuk menunggu giliran. Semua anak beremangat untuk bermain sambil berteriak memanggil nama temannya untuk memberikan semangat.

Berdasarkan pelaksanaan pada siklus II tersebut, peneliti beserta guru kelas melaksanakan observasi selama pelaksanaan tindakan penelitian berlangsung. Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan oleh peneliti bekerjasama dengan guru kelas terhadap pelaksanaan tindakan siklus II, diperoleh hasil sebagai berikut:
a)Anak semakin terlihat antusias pada saat guru menjelaskan bahwa permainan menyerok ikan yang sebelumnya pernah dilaksanakan akan dibuat menjadi sebuah perlombaan.

b) Keaktifan anak semakin terlihat dalam setiap kegiatan

Pada pelaksanaan siklus II, keaktifan anak mengalami peningkatan yang pesat. Anak-anak sudah mampu untuk menyerok ikan dengan tepat sesuai perintah dan cepat. Hanya ada beberapa anak saja yang masih memerlukan bantuan guru.

c)Ketertarikan anak dalam mengikuti pembelajaran

Anak-anak sangat terlihat tertarik untuk melaksanakan kegiatan permainan menyerok ikan. Namun begitu terlihat sangat tertarik dan antusias, sudah tidak ada lagi anak yang berebut untuk melaksanakan kegiatan permainan karena sudah banyak alat yang disediakan. Anak sudah mulai dapat diatur dan mengendalikan emosi serta dirinya agar tidak berebut dengan temannya.

Hasil pengamatan yang di dapat terhadap pelaksanaan tindakan peningkatan kemampuan membilang konsep angka dapat dilihat pada siklus II:

Tabel 4.4 Rekapitulasi hasil pengamatan pada Siklus II :
No. Pemahaman konsep angka atau bilangan Persentase

1. Menghitung angka atau bilangan 87,50%

2. Mengenal lambang bilangan (angka) 81,25%

3. Membandingkan hasil sesuai dengan lambang bilangan 78,75%

Persentase 82,50%

Berdasarkan hasil uraian tabel tersebut dapat dilihat bahwa hasil dari pelaksanaan siklus II pada peningkatan pemahaman konsep angka atau bilangan telah mencapai sebesar 82,50% dengan kriteria sangat baik. Sebagian besar anak juga menunjukkan adanya peningkatan pada setiap indikator pemahaman konsep angka atau bilangan.

4.5 Refleksi Siklus II
Dalam Pelaksanaan refleksi siklus II juga dilakukan oleh peneliti bersama dengan guru kelas. Peningkatan pemahaman konsep angka atau bilangan pada siklus II dapat diketahui dengan cara membandingkan data persentase yang kemampuan membilang yang diperoleh pada pelaksanaan siklus I dengan pelaksanaan siklus II, peneliti membandingkan peningkatan persentasenya seperti di bawah ini :

Tabel 4.5 Perbandingan Siklus I dan Siklus II
No. Perbandingan Siklus Persentase

1. Siklus I 72,08%

2. Siklus II 82,50%

Peningkatan persentase 10,42%

Berdasarkan hasil tabel perbandingan di atas terlihat peningkatan pemahaman konsep angka atau bilangan anak melalui perlombaan permainan menyerok ikan pada siklus I dan siklus II setelah dilaksanakan refleksi dan perbaikan dalam pemberian tindakan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perlombaan permainan menyerok ikan dapat mengoptimalkan secara maksimal pemahaman konsep angka atau bilangan pada anak.

Untuk dapat mengetahui peningkatan pemahaman kemampuan anak melalui permainan menyerok ikan, peneliti sudah membandingkan hasil persentase dari pra siklus, siklus I dan siklus II sebagai berikut:
Tabel 4. 6 Hasil Perbandingan dan Pengamatan keseluruhan :
No. Siklus Persentase

1. Pra Siklus 49,58%

2. Siklus I 72,08%

3. Siklus II 82,50%

Dengan di uraikan hasil pada tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa permainan menyerok ikan dapat meningkatkan pemahaman konsep angka atau bilangan anak Kelompok Bermain di TKK 3 PENABUR. Hal ini sesuai dengan data yang telah diperoleh pada Pra Siklus, siklus I dan II. Pada siklus I pemahaman konsep angka atau bilangan anak berada pada kriteria baik. Pada siklus II pemahaman konsep angka atau bilangan anak meningkat pada kriteria sangat baik. Oleh karena itu, peneliti menganggap bahwa hasil pada siklus II telah sesuai dengan hipotesis tindakan yang diajukan oleh peneliti.

4.6 Pembahasan
Dalam penelitian ini, penelitian yang dilakukan adalah penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus. Setiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan dan juga observasi serta refleksi. Hasil yang diperoleh dari setiap pelaksanaan tindakan ini berupa lembar observasi. Hasil observasi yang berupa data berbentuk tabel tersebut digunakan oleh peneliti untuk mengetahui peningkatan kemampuan membilang pada anak.

Penelitian yang dilakukan ini digunakan untuk meningkatkan pemahaman konsep angka atau bilangan pada anak. Hal tersebut dikarenakan pemahaman konsep angka atau bilangan anak di TKK 3 PENABUR masih belum optimal. Pada saat sebelum dilaksanakannya tindakan, pemahaman konsep angka atau bilangan anak adalah 49,58%. Pemahaman konsep angka atau bilangan anak di TKK 3 PENABUR masih sebatas pada menyebutkan angka, namun anak belum mampu untuk menunjukkan banyaknya benda sesuai dengan angka nya atau lambang bilangan. Anak juga masih belum mampu untuk menunjukkan lambang bilangan sesuai dengan banyaknya benda.

Untuk memperbaiki permasalahan yang relevan dengan pemahaman konsep angka atau bilangan pada anak Kelompok Bermain TKK 3 PENABUR, maka kegiatan pembelajaran dilakukan lebih menarik yaitu melalui permainan menyerok ikan. Hal ini dikarenakan permainan menyerok ikan merupakan suatu kegiatan menarik yang dapat digunakan untuk melatih anak mengenal angka dengan cara yang lebih menyenangkan. Melalui permainan menyerok ikan, anak juga diajarkan untuk mampu memasangkan jumlah dengan lambang bilangan(angka) (Yuliani Nurani Sujiono, 2009:11.35). Disamping itu juga, permainan menyerok ikan juga dapat digunakan sebagai cara untuk meningkatkan motivasi keingintahuan anak dalam berhitung, sehingga kegiatan berhitung menjadi lebih menarik dan menyenangkan (Rosi Meri Irawati, 2012:44).

Berdasarkan penjabaran yang sudah dijabarkan dan hasil yang telah diperoleh pelaksanaan melalui kegiatan permainan menyerok ikan dapat membantu meningkatkan pemahaman konsep angka atau bilangan pada anak Kelompok Bermain. Permainan menyerok ikan dapat mengembangkan pemahaman konsep angka atau bilangan pada anak dengan cara yang menyenangkan, sehingga dalam melaksanakan kegiatan anak akan melaksanakan dengan senang hati tanpa adanya paksaan. Hal tersebut sesuai dengan pendapat dari Sofia Hartati (2005:11) yakni salah satu karakteristik anak usia dini yaitu masih sulit berkonsentrasi dalam jangka waktu lama kecuali jika kegiatan tersebut menyenangkan, bervasiasi dan tidak membosankan. Berdasarkan hasil pelaksanaan dari tindakan penelitian, dapat disimpulkan bahwa permainan menyerok ikan dalam penelitian ini dapat meningkatkan pemahaman konsep angka atau bilangan pada anak usia 3 – 4 tahun Kelompok Bermain TKK 3 PENABUR.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil uraian dan penjelasan di atas, peningkatan pemahaman konsep angka atau bilangan melalui permainan menyerok ikan tersebut dapat ditunjukkan dengan adanya peningkatan hasil observasi pra tindakan, siklus I dan siklus II. Sebelum dilaksanakan tindakan penelitian dapat diketahui bahwa pemahaman konsep angka atau bilangan anak baru mencapai persentase sebesar 49,58%. Hasil tersebut masih menunjukkan bahwa pemahaman konsep angka atau bilangan anak masih berada pada kriteria cukup. Pada pelaksanaan tindakan siklus I, pemahaman konsep angka atau bilangan anak meningkat menjadi 72,08% dengan kriteria baik.

Karena hasil dari Siklus I belum cukup baik, maka peneliti melakukan tindakan siklus II berdasarkan refleksi dan perbaikan atas siklus I. Setelah pelaksanaan tindakan siklus II, pemahaman konsep angka atau bilangan anak meningkat ditunjukkan dengan persentase sebesar 82,50%. Maka dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa pemahaman konsep angka atau bilangan anak telah mencapai kriteria keberhasilan yang diharapkan peneliti, yaitu telah mencapai kriteria sangat baik.

5.2 Saran
Dalam mencapai keberhasilan dalam meningkatkan pemahaman konsep angka atau bilangan pada anak usia 3 – 4 tahun Kelompok Bermain TKK 3 PENABUR berikut ini adalah saran yang telah dirangkum oleh penulis:
Bagi Guru

Guru diharapkan dapat mengatur anak dalam melakukan permainan menyerok ikan agar pada saat pelaksanaan anak tidak saling berebut.

Guru diharapkan lebih mengarahkan anak agar dapat mandiri saat melaksanakan permainan menyerok ikan.

Pada saat melaksanakan permainan menyerok ikan, diharapkan agar guru dapat menyediakan media dan bahan dengan jumlah yang tepat sesuai metode yang digunakan.

Kegiatan permainan menyerok ikan hendaknya dapat dirancang untuk mengembangkan berbagai aspek perkembangan anak, tidak hanya pada pemahaman konsep angka atau bilangan.

2. Bagi Peneliti
Untuk penelitian selanjutnya disarankan agar dapat mengembangkan permainan menyerok ikan sebagai kegiatan untuk meningkatkan pemahaman konsep angka atau bilangan pada anak usia dini. Selain itu juga diharapkan agar dapat mengembangkan kegiatan lain untuk meningkatkan pemahaman konsep angka atau bilangan pada anak mengingat pemahaman konsep angka atau bilangan merupakan dasar bagi perkembangan ilmu selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

x

Hi!
I'm Mia

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out